Kamis, 13 Juni 2019

salam ibu

assalamualaikum ibu ...

Saat ibumu sudah tua renta, tak dapat menangkap pembicaraan dengan baik karena telinganya sudah mulai tuli, tak dapat mengingat dengan benar karena ingatannya sudah mulai pikun, tak dapat mengatur dirinya dengan rapi karena gerakannya sudah mulai lambat, apakah kau akan bersabar menghadapinya seperti sabarnya dia dulu menghadapimu sewaktu kau belum bisa melakukan apa pun? Ibumu mungkin tidak secerdas kamu, tidak sesukses kamu, tidak sesempurna fisikmu, tapi dia memiliki hati yang begitu ikhlas sehingga tak pernah memintamu untuk membayar kembali segala jasanya yang membuat kamu seperti sekarang. Ibu adalah yang menyayangimu sepenuh hati, bahkan saat kau baru berbentuk seonggok tulang dan daging di dalam rahimnya. Dulu, saat nada suara ibumu meninggi karena marah padamu, kau mungkin akan menangis sejadi-jadinya. Kini, saat nada suaramu meninggi karena kesal pada ibumu, ibumu mungkin tidak menitikkan tangis air mata setetes pun, tapi hatinya yang menangis. Ibu mencintai anaknya dengan caranya sendiri. Mungkin dengan memarahimu, lalu memelukmu kembali. Jangan biarkan ibumu teluka dan menangis meski setetes karena ulahmu. Dia sudah terlalu banyak menahan sakit dan menghabiskan banyak darah saat melahirkanmu. Meski kau menyerahkan seluruh harta milikmu, kau tidak akan sanggup membayar pengorbanan ibumu saat mengandung, melahirkan, menyusui, memberimu makan, dan membimbingmu hingga besar. Hal membahagiakan yang sekaligus membuat seorang ibu sedih adalah saat melepas anak yang sudah dibesarkannya dengan penuh kasih sayang untuk membina keluarganya sendiri. Seorang ibu adalah dia yang selalu melihatmu masih sebagai anak kecilnya meski kau sudah beranjak dewasa. Ibumu mungkin tak sepandai kekasihmu dalam merangkai kata-kata indah demi menyenangkanmu. Tapi ibu, tanpa berkata-kata padamu, akan selalu melakukan hal-hal indah demi membahagiakanmu. Maka bersyukurlah dan manfaatkanlah waktu saat kau masih diberikan kesempatan untuk membahagiakan ibumu. Betapa banyak orang yang baru menyadari ini setelah ibunya tiada.

Yusra Efendi